Begitu Lynx dan Leena keluar dari Pagoda Shenyuan, empat sosok segera menyambut mereka. Arkha, Kael, Jelita, dan Narendra tampak cemas, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah mereka berdua.

Kael maju selangkah, suaranya terdengar tenang namun penuh rasa ingin tahu. "Bagaimana? Apakah kalian sudah menemui roh itu?"

Lynx menatap mereka dengan ekspresi serius. "Mengenai roh itu, aku belum bisa menjelaskan sekarang. Tapi yang pasti, dia bukan roh jahat. Aku harap kalian tidak membocorkan apa pun tentang keberadaannya. Ini penting."

Mereka saling berpandangan sejenak sebelum menganggukkan kepala, meskipun raut wajah mereka menunjukkan kebingungan yang belum terjawab.

Tak lama kemudian, Arkha mengajukan pertanyaan dengan nada sedikit ragu. "Kepala suku... apa rencana kita selanjutnya? Apakah kita akan mencari Rira?"

Nada suaranya berubah saat menyebut nama itu, mengisyaratkan kekhawatiran pribadi yang cukup dalam.

Lynx menatapnya sejenak sebelum menganggukkan kepala dan menjawab dengan tegas. "Kalian semua tentu sudah lelah. Istirahatlah dulu. Aku akan mencoba melacak jejak energi iblis. Jika benar Rira berhubungan dengan hilangnya fragmen senjata iblis, mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk melalui energi itu."

Arkha tampak ragu, lalu memberanikan diri untuk berbicara. "Kepala suku, jika boleh, bisakah anda tidak hanya mencari energi iblis? Periksa juga kemungkinan adanya energi lain... yang berbeda dengan qi spiritual di tempat ini. Siapa tahu itu bisa mengarah pada sesuatu yang lebih penting."

Ia tidak mengungkapkan alasannya, tapi dalam benaknya, ia masih mengingat dengan jelas benda yang dilihat Rira bawa. Benda yang sangat mirip dengan milik penyihir di Pulau Surya, sesuatu yang tak pernah ia lupakan. Ia belum berani memastikan, tapi dia tetap berharap Lynx memeriksa kemungkinan itu.

Lala memperhatikan Arkha dengan pandangan menyelidik. "Kau menyembunyikan sesuatu?"

"Tidak... bukan begitu. Aku hanya memberi saran. Kekuatan Rira saat kami bertemu dengannya kurasa agak berbeda, selain itu Narendra mengatakan tidak bisa memperkirakan kekuatan aslinya" jawab Arkha tergesa sambil memandang Narendra, berusaha menutup kegugupan dengan kalimat singkat.

Lynx tersenyum kecil. "Lala, jangan menggoda Arkha. Dia memang sedang khawatir tentang Rira."

Ia lalu menoleh pada Arkha dan berkata dengan nada meyakinkan. "Jangan khawatir. Aku akan mencoba segala cara untuk menemukan Rira dan penduduk Surya lainnya."

Lala lalu menyela. "Lynx, bisakah aku masuk ke dunia kecil? Ada hal yang perlu kuteliti di laboratoriumku."

Lynx mengangguk. "Tentu, tapi ingat, kalau kau sudah di dalam, kau tidak bisa keluar tanpa bantuan orang lain untuk membuka gerbang."

Lala mengangkat dagunya. "Apa kau berniat membiarkanku terjebak? Aku percaya padamu. Kunjungilah aku besok. Bagaimana?"

Lynx tersenyum dan langsung membentuk gerbang dimensi ke dunia kecil. Begitu terbuka, Lala melangkah masuk tanpa ragu. Gerbang segera tertutup setelahnya.

Leena memandang sekeliling. "Mana Isha?"

Jelita menjawab. "Isha sedang bersama anak buah Lala. Mereka yang akan menjaganya."

"Baiklah," kata Lynx. "Kalian semua istirahatlah sekarang. Aku akan mulai pencarian."

Setelah memastikan semuanya kembali ke tempat istirahat masing-masing, Lynx menggandeng Leena menuju kamar yang telah disiapkan untuk mereka.

Dalam kamar, Leena berbicara dengan suara pelan. "Sayang, bagaimana menurutmu saran dari Arkha?"

Lynx menghela napas sebelum menjawab. "Sebenarnya aku memang sudah berniat melakukan hal yang sama. Aku ingin mencari jejak para makhluk dari dunia surgawi. Jika mereka datang untuk mengejar Yan Ruyan atau artefak itu, kita tidak boleh lengah. Bahaya bisa datang kapan saja."

"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Tapi bisakah aku menemani Lala di dunia kecil? Aku ingin melihat laboratoriumnya sekaligus melihat apakah ada yang bisa aku bantu. " Leena mendekati wajah Lynx dengan wajah sok imut."Boleh ya sayangku..."

"Duh, wajahnya. Bikin aku ingin bercinta. Tapi aku harus urus hal penting terlebih dahulu." batin Lynx.

Lynx lalu mencubit pipi Leena dengan gemas."Gemesin banget sih sayangku satu ini. Pergilah, kamu bisa memintaku membuka gerbang dengan cara merobek kertas formasi yang kuberikan kepadamu." Lynx mengecup bibir Leena sebelum membukakan gerbang dimensi untuk Leena masuki.

Lynx lalu duduk bersila, mulai bermeditasi dan mengalirkan energi sakti dari dalam tubuhnya. Kesadarannya menjalar ke seluruh penjuru benua. Dari gunung, hutan, dasar laut, hingga langit di ujung cakrawala, ia menyapu segala bentuk fluktuasi energi yang tak biasa.

Di tengah pencariannya, ia merasakan keanehan. Para immortal yang sebelumnya hanya beberapa, kini jumlahnya jauh lebih banyak. Energi mereka tersebar di berbagai penjuru dunia.

"Mereka selama ini mungkin berada di dimensi pengasingan yang tertutup dari jangkauan spiritualku," batinnya. "Tapi... kenapa sekarang mereka semua muncul?"

Tiba-tiba, empat gelombang energi asing melesat cepat di langit. Energi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bukan qi spiritual, bukan juga energi iblis. Asing, kuat, dan tidak stabil. Lynx segera membuka matanya. Dalam hitungan detik, tubuhnya melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya di udara. Arah pergerakannya jelas, menuju benua lain, ke titik di mana empat energi aneh itu mengarah.

Setibanya di lokasi sumber energi aneh yang sebelumnya ia rasakan, Lynx mendarat di tanah beberapa saat, dia menginjak tanah berlumut di tengah hutan lebat yang belum pernah ia lihat sebelumnya lalu menatap ke sekitar dengan kening berkerut. Tak ada tanda-tanda keberadaan apapun. Energi yang tadi dirasakan begitu kuat, kini lenyap tanpa jejak, seakan menguap begitu saja dari permukaan dunia.

Ia mulai memeriksa sekitar, pepohonan raksasa menjulang ke langit, dedaunan menutupi langit hingga cahaya matahari nyaris tak tembus. Suasana sunyi, hanya terdengar desiran angin dan suara binatang hutan yang samar.

Lynx terbang kembali dan memutar tubuh, memandang ke segala arah. Sejauh mata memandang, tidak ada bangunan, tidak ada pemukiman, tidak ada tanda peradaban. Hanya hutan.

"Aneh... bagaimana bisa energi sebesar itu lenyap begitu saja?" gumamnya pelan.

"Mungkinkah ada portal lagi di tempat ini." Lynx menghela napas panjang. Dunia kultivasi yang terlihat banyak keanehan karena energi spiritual, menjadi lebih aneh lagi dengan semakin banyaknya portal dimensi dan berbagai artefak ajaib bagi manusia biasa dari dunia lain.

Ia menutup mata sejenak, mencoba meluaskan kesadaran spiritualnya kembali, berharap menemukan jejak yang tersisa. Tapi yang dia rasakan justru sesuatu yang tidak ia sangka.

"Seorang anak?" bisiknya.

Aura yang lemah, tak jauh dari lokasinya. Ranahnya hanya berada di tingkat satu Forging Qi, nyaris tak bisa dipakai untuk bertarung. Tapi yang membuat Lynx heran adalah lokasinya, di tengah hutan ini, sendirian, dan... dalam bahaya.

Kening Lynx mengerut dalam. "Apa yang dilakukan anak itu di tempat seperti ini?"

Ia segera bergerak, tubuhnya melesat cepat di antara pepohonan, nyaris tak meninggalkan suara. Semakin mendekat, ia bisa merasakan denyut aura anak itu. Ada ketegangan, ketakutan... dan jejak darah.

Beberapa saat sebelumnya, di tempat yang sama...

Kanha terengah-engah, pakaiannya compang-camping dan tubuhnya penuh luka gores. Wajahnya kotor oleh debu dan darah kering. Ia baru saja berhasil melintasi portal yang disembunyikan para penyihir, meninggalkan tempat penyekapan mereka.

Awalnya ia berniat membawa rekan-rekannya yang masih sehat dan kuat untuk melarikan diri bersama. Tapi begitu menyadari kekuatan mereka terbatas dan tidak mengenal keadaan sekitar, ia tahu rencana itu terlalu berisiko. Terlalu banyak orang, terlalu mudah ketahuan.

Dengan kemampuan, kelincahan dan keberanian yang terbentuk selama di planet Surya, Kanha memutuskan untuk pergi sendiri. Ia yakin bisa bertahan hidup cukup lama untuk mencari bantuan. Dia sudah pernah diam-diam keluar dan memantau keadaan dimana portal tersebut mengarah ke sebuah hutan, dan hutan sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Suku Surya  terbiasa hidup dengan alam.

Begitu keluar dari portal, ia langsung berlari tanpa arah, mengikuti instingnya, berharap menjauh sejauh mungkin. Namun hutan yang ia masuki terlalu dalam, terlalu sunyi, dan penuh dengan aura liar. Hewan-hewan aneh dan terlihat lemah namun memiliki kekuatan dan berbagai kejadian aneh yang belum pernah dilihatnya harus dia hadapi. Ia tetap memaksakan diri dengan tubuh terluka saat menghindari serangan binatang iblis, berusaha mencari bala bantuan.

"Aku harus terus jalan... aku harus cari orang... siapa saja," gumamnya, terengah. Tubuhnya penuh dengan lumpur. Wajahnya tidak lagi terlihat karena dia tidak sempat membersihkan diri, bahkan tidak berpikir untuk menghilangkan kotoran dibadannya. Lumpur tersebut secara alami bisa melindunginya dari bahaya.

Namun langkahnya terhenti ketika suara geraman rendah terdengar dari semak-semak. Tiga ekor binatang iblis dengan tubuh besar dan bulu berduri muncul perlahan, menatap Kanha dengan mata merah menyala. Nafas mereka berat, air liur menetes dari taring tajam yang terbuka.

Wajah Kanha memucat.

"Celaka..."

Dan saat itulah, Lynx muncul.

